





























laba yang sangat besar dan menggurita di seluruh penjuru dunia. Kesuksesan KFC tentunya tidak lepas dari peranan Kolonel Sanders. Dengan ketekunan dan kerja keras yang luar biasa akhirnya Kolonel Sanders dan anak cucunya dapat menikmati buahnya sekarang, KFC demikian besar dan pesat perkembangannya. Lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel dinikmati setiap tahunnya. Dan itu tidak hanya di Amerika Utara. Bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia.
ia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta
k
tober 1992 dia datang ke Indonesia dan memukau ratusan pendengarnya, yang membayar US$ 250.00 per orang, dalam seminar setengah hari di Jakarta Hilton. Di sana ia menceritakan kiat-kiatnya menjadi jago dunia.
nan dan ketabahan adalah kemampuan menyelesaikan suatu pekerjaan sampai tuntas, selesai dan berhasil, apa pun halangannya. Lawan sifat ini adalah gampang menunda. Orang yang tidak tekun mudah menyerah pada godaan sesaat –menyimpang dari rel visi– yang umumnya dapat digolongkan pada tiga kategori: nafsu mata, nafsu perut, dan nafsu libido.
D’Angelo membuat plug-in untuk menghimpun kesukaan orang terhadap aneka jenis lagu dan kemudian membuat play list-nya sesuai selera mereka. Mereka mengirimkan program itu ke berbagai perusahaan termasuk ke AOL (American Online) dan Microsoft. Pada tahun terakhimya di Phillips ia direkrut oleh Microsoft dan AOL untuk suatu proyek.
a selalu mencari cara untuk mewujudkannya. “Saya ingin menunjukkan kalau hal itu bisa dilakukan,” lanjutnya soal kengototannya membuat direktori itu.
rd. Dalam penjelasan di website-nya sekarang disebutkan bahwa Facebook adalah suatu alat sosial untuk membantu orang berko munikasi lebih efisien dengan rekan, keluarga, atau rekan kerjanya. Facebook menawarkan navigasi yang mudah bagi para penggunanya. Setiap pemilik account punya ruang untuk memajang fotonya, teman-temannya, network, dan melakukan hal lainnya seperti bisa berkirim pesan dan lain sebagainya.
bukan kali pertama Jobs mendapat pengakuan atas kepemimpinannya sebagai seorang CEO handal.
membuat Apple I, Jobs memperkenalkan Apple II. Apple II adalah personal komputer untuk rumah dan usaha kecil selama kurang lebih 5 tahun. Ketika Macintosh dikenalkan pada tahun 1984, yang dipasarkan untuk usaha menengah dan besar. Macintosh mengambil langkah yang pertamanya dalam mengadaptasi personal komputer untuk kebutuhan kerja perusahaan. Pekerja di kantor mendapatkan kemudahan pengetahuan komputer dalam aktifitas harian melalui tampilan Macintosh yang mudah digunakan. Steve Jobs menyadari sebagai orang muda yang brilian di Silicon Valley, karena dia melihat permintaan masa depan dari industri komputer. Dia merasa mampu membuat personal komputer untuk pasar dari produknya. “Personal komputer dibuat berdasarkan revolusi hardware pada tahun 1970 dan perubahan dramatis berikutnya akan datang pada revolusi software,” kata Jobs. Ide inovasinya dengan penggunaan yang mudah untuk Macintosh merubah desain dan fungsi dari tampilan software untuk komputer. Tampilan Macintosh memungkinkan orang untuk berinteraksi lebih mudah dengan komputer, karena mereka menggunakan mouse untuk mengklik pada display obyek pada screen untuk melakukan fungsi perintah tertentu. Macintosh mendapatkan perintah komputer yang memudahkan orang dalam menggunakan komputer. Setelah berhenti dari perusahaan Apple, Jobs akan melanjutkan tantangan dirinya untuk membuat komputer dan software untuk riset dan pendidikan dengan memulai membangun perusahaan baru seperti komputer NextStep.

das, tetapi dia terlalu penuh semangat dan cenderung sering mendapatkan kesulitan di sekolah. Ketika dia berumur sebelas tahun, orang tuanya memutuskan untuk membuat perubahan dan mengirimnya ke Lakeside School, sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki.
Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara dalam sebuah keluarga yang sangat berkecukupan. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang guru, mengajar di sekolahan Belanda. Sebuah profesi yang bukan hanya membuat keluarganya cukup terpandang ketika itu, tetapi juga sekaligus terpelajar. Tak heran kalau di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Menteng, Bob Sadino kecil selalu dipanggil dengan sebutan “sinyo” oleh anak-anak kampung di sekitar rumahnya. Setelah orang tuanya meninggal,Bob-yang pada waktu itu berumur 19 tahun-memutuskan untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itulah ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia terakhir bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga Hamburg, Jerman. Di negeri kincir angin itu pula, Bob kemudian bertemu dengan Soelami Soejoed, pegawai Bank Indonesia yang tengah bertugas disana, yang kemudian menjadi istrinya
Setelah belasan tahun menetap di Eropa-pada tahun 1967-Bob memutuskan keluar dari Djakarta Llyod untuk pulang ke Indonesia. Ia mengaku sudah tidak mau lagi bekerja di bawah perintah orang lain, dan ingin bertanggung jawab pada diri sendiri. Karena itulah, ketika kembali ke Jakarta, ia membawa serta dua buah mobil Mercedes miliknya. Di mana salah satunya, kemudian ia tukarkan dengan sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, sementara yang satunya lagi tetap ia pertahankan.
Pekerjaan pertama yang dijalaninya sekembalinya dari eropa adalah menyewakan mobil Mercedes miliknya, dimana ia sendirilah yang menjadi sopirnya. Sayang, suatu ketika ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu atau kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. “Banyak pengalaman lucu selama periode miskin itu, yang sampai sekarang masih selalu teringat. Suatu malam ketika saya kehabisan rokok, istri saya berkata : kalau sekarang beli rokok, berarti besok kita nggak bisa beli makanan. Jadi kita mesti menentukan, apakah memilih besok tetap bisa makan atau sekarang bisa merokok?” kenangnya
Sampai s
uatu hari, ia menyadari perbedaan antara telur ayam di Indonesia dengan telur yang ada di negeri Belanda. “Ketika itu orang Indonesia hanya mengenal telur ayam kampung, sehingga banyak ekspatriat yang kesulitan mendapatkan telur. Karena disamping berbeda jenis, kapasitas ayam kampung dalam bertelur, paling hanya belasan butir per-tahun”. Karena melihat perbedaan itulah maka Bob kemudian menulis surat kepada kawannya yang tinggal di Belanda, untuk mengirimkan anak-anak ayam petelur. Hal yang sama terjadi sekali lagi pada saat Bob melihat “perbedaan” antara ayam pedaging dengan daging ayam kampung. Ia pun sekali lagi meminta kawannya untuk mengirimkan bibit ayam pedaging, atau yang sekarang kita kenal dengan ayam lehorn.
“Inilah awal dari sebuah langkah pertama saya, yang tanpa konsep, tanpa rencana, hanya bergulir begitu saja, jadi apa susahnya? Kalau kemudian orang-orang hanya melihat apa-apa yang sekarang saya punya, semua itu hanyalah akibat-akibatnya saja. Akibat dari serangkaian langkah yang mulai saya lakukan pertama kali itu. Bagaimana mungkin saya bisa merencanakan ini semua? Orang saya hanya mulai dari memelihara ayam, dan karena ayam-ayam itu bertelur dalam jumlah banyak, makanya secara naluri saya mulai menawarkan kepada para tetangga. Saya pergi memb
awa 3 kilogram ke kiri, dan istri saya membawa 4 kilogram ke kanan. Kami pun mulai menawarkan telur-telur itu dari pintu ke pintu. Dalam kondisi seperti itu, mana mungkin saya berani berencana untuk suatu hari membangun Kem Chick, Kem Food, Kem Farm, apa lagi sampai kemudian membangun apartemen?”
Meskipun begitu-tak dapat dipungkiri lagi-Bob Sadino lah orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat negeri ini, berbagai khazanah sayur-mayur, buah-buahan termasuk telur dan ayam pedaging. Ia lah yang pertama kali memperkenalkan buah melon yang sekarang kita kenal, ia pula yang memperkenalkan jagung manis, selada, paprika, dan berbagai sayur lainnya. Bob Sadino pula orang pertama di Indonesia yang menggunakan peladangan dengan sistem hidroponik. Bahkan sebuah catatan di awal tahun 1985 menyebutkan, bahwa rata-rata per bulan perusahaan Bob Sadino mampu menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.
Tak hanya itu, ia pula satu-satunya orang Indonesia yang sampai hari ini, mengekspor ribuan ton sayur-mayur dan buah-buahan ke Jepang. Sebuah kegiatan yang tak hanya melulu bermakna keuntungan besar-akan tetapi justru lebih utama-berarti tingkat kepercayaan tinggi dan sustainable dari orang-orang Jepang kepadanya. Mengingat, dalam soal sayur-mayur, masyarakat Negeri Sakura itu terkenal sangat ketat dan berekspektasi tinggi. Hebatnya lagi, ia selalu dapat memenuhi suplai dalam jumlah yang sangat kolosal tersebut. Bob Sadino tidak memiliki sejengkal tanah pertanian pun. Bagaimana bisa? “Sejak awal saya bermitra dengan para petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Merekalah yang menanam sayur atau buah yang dibutuhkan oleh orang Jepang.”
Tapi bagaimana caranya membuat para petani itu selalu bersedia menanam sayur dan buah-buahan yang om Bob mau? Karena apa jadinya kalau suatu kali para petani itu tergoda untuk menjual hasil tanamannya ke pasar lokal atau ke pembeli lain? “Kalau anda orang pintar, pasti akan bingung mengatasi persoalan seperti itu. Untungnya saya orang goblok, sehingga cara berpikir saya sangat sedehana. Di awal saya selalu bertanya kepada para petani, berapa rupiah rata-rata hasil mereka dalam setahun, dari menanam berbagai tanaman? ketika mereka menjawab-katakanlah 100 sampai 150 setahun-maka saya akan bertanya: mau nggak kalian menanam untuk saya, dengan penghasilan antara 300 sampai 500 setahun? Yang pasti, mereka nggak akan pernah menolak. Dalam kasus lain saya membuka harga yang saya terima dari pihak buyer di Jepang kepada para petani. Katakanlah, harga beli dari pihak Jepang adalah 10 rupiah per-ton, lalu saya memberikan kepada mereka yang 8 rupiah, sedangkan untuk saya 2 rupiah. Dengan pembagian seperti itu, apa yang kemudian terjadi? Bukan hanya mereka akan menjadi sangat loyal kepada saya, bahkan boleh dikata, mereka menyerahkan seluruh hidupnya untuk saya.”
Dari semua pergumulan tersebut, antara kesenangan – kesulitan, fokus dan semangat untuk terus melangkah maju, Bob Sadino yang lahir di Lampung, 9 Maret 1933, kini telah mencapai berbagai keberhasilan hidup. Tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk kontribusi. Bapak dari dua orang putri ini, sudah cukup lama mempercayakan perusahaannya kepada para eksekutif, sehingga sehari-hari ia bisa leluasa mondar-mandir memenuhi undangan dari berbagai kampus dan Perguruan Tinggi di tanah air, untuk memberikan ceramah dan membagi wawasan. Lalu dengan berbagai pencapaiannya itu, apa makna sukses bagi seorang Bob Sadino? “Bagi saya sukses adalah, bilamana apa yang saya harapkan, kemudian itu pula yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau di hari-hari kemarin saya lapar, sehingga mengharapkan besok bisa makan, dan ternyata besok saya benar-benar dapat makan, maka saya sudah sukses.”
“Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nilai sepiring nasi untuk dimakan besok? Saya menghargai itu, karena saya pernah lapar dan tidak memiliki makanan sama sekali. Sepiring nasi itu punya arti yang sangat besar, bagi saya. Sesederhana itu! Mungkin titik berangkat itulah yang bisa membuat saya begini hari ini. Kebanyakan orang tidak bisa menghargai sepiring nasi, karena mungkin mereka belum pernah lapar. Sehingga bisa makan sepiring nasi, dianggap sekedar taken for granted, kewajaran. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang dipinggir jalan itu ?
Dari sekilas hidup dari om Bob Sadino, kita bisa menemukan satu gaya lain dari sebuah proses pembelajaran, yaitu melalui praktik, praktik, dan praktik, yang ia kiaskan sebagai sekadar melangkah. Bayangkan, saat ia mulai pertama kali memelihara ayam petelur? Berapa dari ayam-ayam tersebut yang sakit, bahkan yang kemudian mati? apa maknanya? ia mesti belajar mengenal dan “mendengar” ayam-ayam tersbut, agar bisa menjaga kelangsungan hidupnya. Begitu pula dengan ayam pedaging. Lalu bagaimana waktu ia pertama kali menanam dengan teknik hidroponik? Bagaimana pula dengan munculnya ide untuk menjual Chicken Part? atau Four Leg Chicken? “Saya mungkin bagi orang lain terdengar seperti orang gila, tetapi sejujurnya, saya selalu bisa mendengarkan apa yang yang diungkapkan oleh sebatang tanaman. Misalnya, kapan ia merasa haus sehingga butuh minum, atau kapan ia justru kebanyakan air sehingga perutnya merasa kembung. Sampai saya bisa mengerti, makanan apa yang kurang, zat kandungan dalam tanah apa yang ia butuhkan, dan sebagainya”.
Singkatnya Bob Sadino tidak pernah berhenti belajar. Bahkan kalau pada hari-hari ini anda berkunjung ke rumahnya yang asri di bilangan Jakarta Selatan itu-barangkali anda temui-ia tengah khusuk membca buku di ruang kitchen, yang menjadi tempat favoritnya